EVOLUSI
Nama : Valentina Dumaris Simangunsong
NPM :
16515998
Kelas : 1PA03
EVOLUSI
BAB I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Evolusi di permukaan bumi diawali dengan adanya asal-usul kehidupan di muka
bumi ini. Beberapa ilmuwan maupun ahli yang mengemukakan pendapat atau
argumentasi tentang asal-usul kehidupan ini. Pada akhir abad ke-17, seorang
ilmuwan IPA berkebangsaan Belanda yaitu Antonie van Leeuwenhoek (1632–1723)
mengemukakan teori asal-usul kehidupan yang dikenal dengan Teori Abiogenesis
(kehidupan berasal dari benda mati). Teori ini sama halnya dengan Teori
Generatio Spontanea (Abiogenesis) dari Aristoteles (384–322 SM). Lain halnya
dengan teori yang dikemukakan oleh seorang ahli IPA Francisco Redi (1616–1628)
melalui percobaannya yang terkenal dengan dua toples yang masing-masing berisi
daging, dan salah satu toples ditutup rapat. Hasil dari percobaan ini ternyata
dapat menyanggah Teori Abiogenesis dengan kesimpulannya (Teori Biogenesis)
bahwa kehidupan berasal dari benda hidup bukan benda mati.
Louis Pasteur (1822–1895) seorang ahli biokimia dan mikrobiologi dari
Prancis mengadakan riset dengan mengganti tabung yang tertutup tersebut dengan
pipa panjang berlekuk (seperti leher angsa) yang terbuka atau dapat berhubungan
dengan udara luar. Hal ini diperkirakan jika ada bakteri tidak akan dapat masuk
ke dalam tabung karena tertahan dalam leher angsa tersebut. Berdasarkan hasil
ini, berakhirlah Teori Abiogenesis dan digantikan Teori Biogenesis dengan
pernyataannya yang terkenal omne vivum ex
ovo omne ovum ex vivo (kehidupan berasal dari telur, telur berasal dari
makhluk hidup).
Berdasarkan beberapa teori yang mengemukakan tentang asal-usul kehidupan
tersebut, menjadikan pengetahuan awal dalam membuka ragam kehidupan yang ada
sampai saat sekarang ini. Setelah itu, banyak ilmuwan-ilmuwan yang menyelidiki
lebih lanjut tentang keanekaragaman makhluk hidup di bumi ini. Dengan kata lain,
pengetahuan evolusi menjadi perhatian serta bahan penyelidikan yang menarik.
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Evolusi
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan
pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh
kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang
menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk
hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme
bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru
dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen
antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme.
Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum
atau langka dalam suatu populasi.
2.2 Proses Terjadinya Evolusi
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam
dan hanyutan genetik. Seleksi alam
merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk
keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu
populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal
ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih
berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi
selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa
generasi, adaptasi
terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus
menerus dan acak ini dengan seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetik
(Bahasa Inggris: Genetic Drift) merupakan sebuah proses bebas yang
menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi. Hanyutan
genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan diwariskan ketika
suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi.
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan
seleksi alam kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan
yang substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies
yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan antara organisme yang
satu dengan organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies yang kita
kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi
secara perlahan ini.
Dokumentasi fakta-fakta terjadinya evolusi dilakukan
oleh cabang biologi yang dinamakan biologi evolusioner. Cabang ini juga
mengembangkan dan menguji teori-teori
yang menjelaskan penyebab evolusi. Kajian catatan fosil
dan keanekaragaman hayati
organisme-organisme hidup telah meyakinkan para ilmuwan pada pertengahan abad
ke-19 bahwa spesies berubah dari waktu ke waktu. Namun, mekanisme yang
mendorong perubahan ini tetap tidaklah jelas sampai pada publikasi tahun 1859
oleh Charles Darwin, On the Origin of Species
yang menjelaskan dengan detail teori
evolusi melalui seleksi alam. Karya Darwin dengan segera diikuti
oleh penerimaan teori evolusi dalam komunitas ilmiah. Pada tahun 1930, teori
seleksi alam Darwin digabungkan dengan teori pewarisan
Mendel, membentuk sintesis evolusi modern, yang
menghubungkan satuan evolusi (gen) dengan mekanisme evolusi
(seleksi alam). Kekuatan penjelasan dan prediksi teori ini mendorong riset yang
secara terus menerus menimbulkan pertanyaan baru, di mana hal ini telah menjadi
prinsip pusat biologi modern yang memberikan penjelasan secara lebih menyeluruh
tentang keanekaragaman
hayati di bumi.
Meskipun teori evolusi selalu
diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusioner telah berakar sejak zaman Aristoteles.
Namun, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah
banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori
Darwin mengenai evolusi yang terjadi karena seleksi alam
dianggap oleh mayoritas komunitas sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan
peristiwa evolusi.
2.3 Teori Tentang Evolusi Mahluk
Hidup
Perkembangan
teori evolusi terjadi pada abab ke–19, ketika banyak ditemukan berbagai fosil
makhluk hidup yang telah punah. Sebelumnya, pada awal abab ke 18, banyak
ilmuwan yang percaya bahwa spesies tidak mengalami perubahan sehingga
penemuan-penemuan fosil makhluk hidup yang telah punah tidak dapat dijelaskan
oleh teori-teori pada saat itu. Pada akhir abab ke–18, ilmuwan mengembangkan
teori yang menjelaskan perubahan makhluk hidup dari waktu ke waktu.
Teori Evolusi
Lamarck
Berdasarkan
bukti-bukti fosil yang ada, ean Baptiste de Lamarck mengemukakan teori evolusi
pada 1809, tahun saat Darwin dilahirkan. Lamarck mengungkapkan bahwa makhluk
hidup berevolusi sebagai respon terhadap perubahan lingkungannya. Berevolusi,
maksudnya makhluk hidup berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Oleh karena
itu, Lamarck merupakan orang pertama yang menyatakan bahwa makhluk hidup
melakukan evolusi.
Teori evolusi Lamarck menjelaskan dua fakta penting,
yaitu sebagai berikut.
- Pertama, mengenai penemuan fosil yang memperlihatkan bahwa makhluk hidup di masa lampau berbeda dengan yang hidup saat ini.
- Kedua, teorinya menjelaskan mengapa setiap makhluk hidup memiliki adaptasi yang baik terhadap lingkungannya.
Lamarck memperlihatkan bahwa setiap makhluk hidup
memiliki adaptasi yang sesuai dengan cara hidupnya. Gajah memiliki belalai yang
panjang untuk mengumpulkan makanan; singa memiliki cakar yang kuat dan taring
untuk menangkap mangsa; dan rusa memiliki kaki panjang yang lincah untuk
menghindari predator.
Lamarck juga mengajukan suatu penjelasan mengenai
mekanisme evolusi. Menurut Lamarck, makhluk hidup mengembangkan ciri khusus
melalui organ yang digunakan dan tidak digunakan (use and disuse). Oleh karena
itulah, mekanisme evolusi Lamarck disebut juga teori use and disuse. Lamarck
mencontohkan bahwa rusa yang sering berlari cepat menghindari serigala akan
mengembangkan otot lari yang kuat. Sifat yang dibentuk oleh makhluk hidup
selama hidupnya disebut ciri atau sifat yang didapatkan. Lamarck percaya bahwa
ciri atau sifat yang didapat tersebut dapat diwariskan.
Teori
Evolusi Darwin
Sekitar 50 tahun setelah Lamarck mengajukan teori
evolusinya, Charles Darwin, seorang naturalis asal Inggris, mengajukan teorinya
yang mengubah pemikiran banyak ahli biologi. Materi Selengkapnya Tentang Teori
Evolusi Darwin ...
Perbandingan
Teori Darwin dan Lamarck
Teori Darwin dan teori Lamarck keduanya menyatakan
bahwa evolusi spesies terjadi berangsur-angsur dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Akan tetapi, penyebab dan mekanisme terjadinya perbedaan tersebut
dijelaskan secara berbeda oleh kedua teori tersebut. Materi Selengkapnya
Tentang Perbandingan Teori Evolusi Darwin dan Lamarck ..
2.4 Perubahan pada mahluk hidup yang disebabkan oleh
adaptasi
Adaptasi
adalah kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganny,
sedangkan munculnya makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh adaptasi. Adaptasi
sangat diperlukan oleh makhluk hidup untuk mempertahankan dirinya dari
kepunahan. Kemampuan adaptasi sangat berkaitan dengan kelangsungan hidup. Makin
besar kemampuan beradaptasi, makin besar kemungkinan bertahan hidup. Dengan
kemampuan adaptasi yang besar, suatu jenis makhluk hidup dapat menempati
habitat yang beragam. Manusia merupakan contoh jenis makhluk hidup yang
mempunyai kemampuan yang besar dalam beradaptasi. Hampir semua habitat dihuni
oleh manusia.
Secara garis besar adaptasi makhluk
hidup dibedakan menjadi tiga, yaitu adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan
adaptasi perilaku.
1. Adaptasi Morfologi
Adalah
penyesuaian diri bentuk tubuh atau alat-alat tubuh sehingga sesuai dengan
lingkungannya. Adaptasi morfologi ini mudah kita amati pada hewan ataupun pada
tumbuhan. Contoh:
-
Bentuk mulut
serangga yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya.
-
Bentuk tubuh
iklan yang stream line sehingga memudahkan dalam berenang.
-
Daun
tumbuhan air yang lebih lebar untuk membantu mempercepat penguapan.
-
Burung
memiliki sayap untuk terbang di udara.
-
Gigi hewan
berbeda-beda sesuai jenis makanannya.
-
Beruang
kutub memiliki kulit dan bulu yang tebal untuk menahan dingin.
2. Adaptasi fisiologi
Adalah cara
penyesuaian diri fungsi alat-alat tubuh atau kerja alat-alat tubuh terhadap
lingkungannya. Adaptasi ini tidak mudah diamati seperti pada adaptasi
morfologi, karena menyangkut fungsi alat-alat tubuh dan proses kimia yang
terjadi di dalam tubuh. Contoh:
-
Ikan
memiliki gurat sisi untuk mengetahui tekanan air.
-
Orang yang
tinggal di pegunungan memiliki jumlah hemoglobin yang lebih banyak ketimbang
orang biasanya.
-
Manusia
mengeluarkan keringat sebagai pengatur suhu tubuh dan membuang zat sisa.
-
Cacing
teredo mengeluarkan enzim selulase untuk mencerna kayu yang dimakannya.
-
Ikan yang
hidup di perairan berkadar garam tinggi memiliki urine yang lebih pekat.
-
Cacing tanah
mengeluarkan zat kapur untuk menetralkan asam di kerongkongannya
3. Adaptasi tingkah laku
Adalah cara
penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya dalam bentuk tingkah
laku. Contoh:
-
Kaki seribu
akan menggulung tubuhnya bila disentuh.
-
Bunglon akan
melakukan mimikri, mengubah warna tubuhnya sesuai lingkungan bila dalam keadaan
bahaya.
-
Tupai dan
kumbang akan pura-pura mati bila dalam keadaan bahaya.
-
Kerbau
berkubang di lumpur untuk melunakkan kulitnya dan mengurangi keadaan panas.
-
Cumi-cumi
menyemprotkan tinta bila dalam keadaan bahaya.
-
Cicak
melakukan outotomi, yaitu memutuskan ekornya untuk mengelabuhi musuhnya.
-
Estivasi
Di beberapa belahan dunia, cuaca
yang paling buruk adalah cuaca pada musim panas. Pada musim panas, udara sangat
panas dan kering. Beberapa hewan bergerak mencari tempat perlindungan dan
tidur. Tidur di musim panas disebut estivasi. Tujuan hewan melakukan estivasi
adalah untuk menghindari panas yang tinggi dan kekurangan air. Lemur kerdil,
kelelawar, dan beberapa tupai adalah mamalia yang berestivasi untuk menghindari
cuaca kering. Jenis tanaman jahe-jahean dan rerumputan melakukan estivasi di
musim kemarau dengan mengeringkan dedaunannya. Adapun, pohon jati melakukan
estivasi di musim kering dengan menggugurkan seluruh daunnya. Hibernasi dan
estivasi, keduanya, disebut dormansi. Jadi, dormansi merupakan masa istirahat
bagi makhluk hidup untuk tetap bertahan pada cuaca yang buruk.
-
Hibernasi
Musim dingin adalah musim yang
sangat sulit bagi hewan. Banyak hewan yang tidak dapat bertahan hidup pada
musim yang keras ini. Beberapa hewan melewatinya dengan tetap giat mencari
makan. Sementara itu hewan yang lain bertahan hidup dengan terlelap dalam suatu
tidur khusus yang dinamakan hibernasi. Ciri-ciri hewan yang melakukan
hibernasi, yaitu suhu tubuh rendah serta detak jantung dan pernapasan sangat
lambat. Tujuannya untuk menghindari cuaca yang sangat dingin, kekurangan
makanan, dan menghemat energi. Contoh hewan yang melakukan hibernasi antara
lain ular, kura-kura, ikan, dan bengkarung yang tetap tinggal di sarangnya
selama musim dingin.
-
Adaptasi
tingkah laku pada rayap
Rayap merupakan hewan yang menghancurkan kayu.
Bagaimana caranya rayap menghancurkan kayu? Di dalam usus rayap terdapat hewan
protozoa, yaitu flagellata yang menghasilkan enzim selulase yang dapat membantu
rayap mencerna kayu. Secara periodik kulit rayap akan mengelupas, pada saat
mengelupas usus bagian belakang yang ada Flagellatanya ikut terkelupas. Untuk
mendapatkan Falgellatanya kembali maka rayap memakan kembali kulitnya yang
mengelupas.
Berbagai
macam adaptasi diatas menunjukkan bahwa tiap makhluk hidup mempunyai keinginan
yang sama, yakni bertahan hidup dan mampu melestarikan jenisnya agar tidak
punah. Adaptasi merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh tiap makhluk hidup
untuk bertahan (survive).
2.5 Perubahan pada mahluk hidup
yang disebabkan oleh seleksi alam
Seleksi alam
adalah kemampuan alam untuk menyeleksi organisme yang ada di dalamnya. Dengan
beradaptasi makhluk hidup yang mampu bertahan akan berlangsung hidupnya,
sedangkan yang tidak mampu bertahan akan punah, dalam peristiwa inilah alam
akan berperan sebagai penyeleksi. Contoh:
-
Makhluk
hidup yang telah punah karena seleksi alam adalah dinosaurus. Hewan tersebut
telah punah sekitar 65 juta tahun yang lalu. Perubahan alam yang terjadi secara
terus-menerus dalam jangka waktu yang lama menyebabkan makhluk tersebut tidak
mampu menyesuaikan diri dan akhirnya punah.
-
Keadaan
populasi kupu-kupu Biston betularia di Inggris sebelum revolusi industri dan
setelah revolusi industri. Di Inggris ada dua macam Biston betularia, yaitu
kupu-kupu bersayap cerah dan bersayap gelap. Sebelum terjadi revolusi industri,
populasi kupu-kupu bersayap cerah lebih besar daripada kupu-kupu yang bersayap
gelap. Adapun setelah terjadi revolusi industri, populasi kupu-kupu bersayap cerah
lebih kecil daripada kupu-kupu yang bersayap gelap. Menurut dugaan, hal itu
dapat terjadi karena sebelum revolusi industri lingkungan masih cerah, sehingga
kupu-kupu bersayap cerah lebih adaptif dari pada kupu-kupu bersayap gelap.
Sebaliknya, setelah revolusi industri keadaan lingkungan lebih gelap oleh
jelaga. Akibatnya kupu-kupu bersayap gelap lebih adaptif terhadap lingkungannya
sedangkan kupu-kupu bersayap cerah tidak adaptif sehingga lebih mudah ditangkap
oleh predator.
2.6 Perubahan
pada mahluk hidup yang disebabkan oleh perkembang biakan
Perkembangbiakan
adalah kemampuan makhluk hidup untuk berkembangbiak demi melestarikan jenisnya
sehingga kelangsungan hidupnya akan tetap berlangsung. Makhluk hidup berkembang
biak dengan berbagai cara. Perkembangbiakan makhluk hidup dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
-
Perkembangbiakan
vegetatif (reproduksi aseksual) adalah peristiwa terbentuknya individu baru
tanpa didahului oleh fertilisasi. Contoh: Tumbuhan umbi-umbian, seperti
kentang, ketela rambat, dahlia, dan ubi berkembang biak dengan umbinya. Bawang
merah dan bawang putih berkembang biak dengan umbi lapis, sedangkan pisang
berkembang biak dengan tunas. Beberapa jenis mikroorganisme, seperti Amoeba dan
bakteri berkembang biak dengan membelah diri.
-
Perkembangbiakan
generatif (reproduksi seksual) adalah peristiwa terbentuknya individu baru yang
didahului oleh fertilisasi, meliputi berbagai jenis vertebrata (ikan, katak,
reptil, burung dan mamalia) dan avertebrata, seperti cacing tanah, lebah, rayap,
udang, dan sebagainya.
Kesimpulan
Kelangsungan hidup makhluk hidup didukung atau
dipengaruhi oleh 3 peristiwa yaitu adaptasi, seleksi alam, dan
perkembangbiakan. Selain itu, terdapat pula istilah evolusi yang merupakan
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Evolusi ini sangat mendasari terbentuknya
spesias baru. Seleksi alam dan adaptasi juga terjadi melalui proses evolusi.
Jadi, munculnya makhluk hidup di dunia ini dipengaruhi oleh evolusi, adaptasi,
seleksi alam dan perkembangbiakan.
Komentar
Posting Komentar